




























Ada wilayah tehnis yang selalu membutuhkan guiding dan tools , dan ada juga hal hal yang lebih bersifat psikologis sehingga tentu saja membutuhkan sedikit sentuhan yang berbeda untuk merubah wacana personal kepada kesadaran atas sebuah visi dan misi perusahaan .
12 Juni 2010 Team Management ALVIN'S - Massfood Mitra Sentosa mengadakan acara week end bersama di Tawangmangu selama dua hari , dengan inti acara adalah membuka wacana berbeda tentang dunia manajerial sebagai bentuk SDM treatment & development , serta simulasi NLP di dalam rangka memenangkan pasar di triwulan kedua . Pemahaman tentang mutu SDM karyawan dalam pendekatan manajemen mutu sumberdaya manusia (MMSDM) modern, dicermati sebagai upaya membangun pendekatan yang lebih holistik dan komprehensif serta integral.
Secara filosofis, pendekatan MMSDM modern memandang mutu SDM sebagai bagian dari kehidupan seseorang. Mutu sudah merupakan kebutuhan hidup seseorang. Dengan demikian, tiap kalangan manajemen dan karyawan dalam melakukan pekerjaannya selalu berorientasi pada mutu. Pemahaman tentang pentingnya mutu SDM dalam peningkatan kinerja karyawan dan organisasi, dengan demikian, seharusnya merupakan bagian integral dari visi dan misi organisasi dan bahkan budaya organisasi.
Pendekatan MMSDM modern berorientasi pada kepentingan perusahaan yang hasil akhirnya adalah dalam bentuk mutu produk yang akan berdampak pada kepentingan konsumen. Kebutuhan SDM yang bermutu sudah mulai dirancang sejak proses rekrutmen dan seleksi karyawan. Mutu SDM harus memenuhi kualifikasi dari produk barang atau jasa yang akan dihasilkan. Selain itu harus disesuaikan dengan jenis, beban dan kualifikasi pekerjaan.
Pendekatan MMSDM moderen juga dicirikan oleh adanya kegiatan yang lebih berorientasi pada pencegahan penurunan mutu SDM dibanding kegiatan mendeteksi dan memperbaiki penurunan mutu SDM. Prinsipnya pencegahan lebih murah dibanding perbaikan. Dengan demikian pendekatan seperti ini akan mampu mengurangi biaya produksi.
Pendekatan MMSDM moderen membutuhkan sistem umpan-balik yang efektif dan bersinambung. Analisis hubungan mutu SDM dan kinerja karyawan serta kinerja perusahaan menjadi sangat penting dilakukan. Begitu pula evaluasi tentang keberhasilan, kekuatan dan kelemahan tiap program pengembangan mutu SDM perlu dilakukan secara terencana dengan baik. Disinilah komitmen manajemen puncak memiliki posisi sangat strategis dalam hal merumuskan kebijakan pengembangan mutu SDM demi kelangsungan hidup organisasi.
Solo , Membuat orang (karyawan) dengan sadar mau belajar kemudian menjadikannya sebagai budaya bukanlah merupakan pekerjaan yang mudah, bahkan mempengaruhi anak kita untuk belajar saja sudah repot dan kadang-kadang harus memakai "kekerasan". Lalu bagaimana dengan karyawan? Berikut ini ada beberapa saran yang dapat kita lakukan agar karyawan dengan sadar mau belajar dan menjadikan proses pembelajaran itu menjadi budaya di organisasi tempat kerja kita: 1. Commitment from the management
Dukungan dan kepedulian management terhadap proses belajar sangat besar pengaruhnya. Libatkanlah dan mulailah proses belajar itu dari pihak management. Management harus punya komitmen dan menjadi role model untuk menjadikan organisasinya menjadi organisasi pembelajar. Cara yang mudah misalnya melakukan secara rutin learning forum di tingkat managerial dulu baru kemudian ke bawah atau dengan cara mengubah kebiasaan memberikan kue tart bagi yang ulang tahun dengan hadiah berupa buku.
2. Paradigm change on learning to all employees
Rubahlah paradigma karyawan bahwa ilmu yang didapat di sekolah atau kuliah tidaklah cukup untuk menunjang kesuksesan pekerjaan mereka, kemajuan zaman akan "melindas" mereka jika mereka tidak berubah. Berikut ini adalah saran yang mungkin bisa dipakai untuk merubah paradigma belajar karyawan dengan mengacu teori 8 Steps change model dari John Kotter:
a. Increase urgency
Perlihatkan kepada karyawan mengenai dampak yang akan terjadi jika karyawan tidak mau mengembangkan diri, tenaga kerja kita akan kalah bersaing dengan kompetitor, kemajuan teknologi akan menenggelamkan kita jika kita tidak belajar mengikuti kemajuan teknologi, produktivitas pribadi dan organisasi akan terus menurun jika tanpa improvement dari karyawan; Lakukan "provokasi" yang positif; Ciptakan iklim kemendesakan tentang pentingnya belajar; Masukkan poin-poin pembelajaran yang akan dicapai pada PSC (Personal Scorecard) atau KPI (Key Performance Indicator) mereka sebagai prasyarat PMS (Performance Management System) atau PA (Performance Appraisal) karyawan.
b. Build the guiding team
Libatkan "key person" di tiap bagian untuk menjadi semacam "gugus kendali mutu" di bagian mereka. Buat tim untuk "proyek" ini (tim "provokator", tim pengumpul ide-ide, tim penyelesai masalah / untuk menghadapi orang-orang yang menentang dsb). Inti dari tahap ini adalah memastikan ada kelompok kuat yang memandu perubahan – yang memiliki kemampuan memimpin, kredibilitas, kemampuan berkomunikasi, kekuasaan, kemampuan analisis dan perasaan mendesak.
c. Get the Right Vision
Ciptakan visi dan perjelas visi tersebut kepada karyawan tentang apa yang ingin dicapai dari proses belajar yang mereka lakukan. Perjelas bagaimana masa depan akan berbeda dari masa lalu, dan bagaimana kita dapat membuat masa depan itu menjadi kenyataan melalui proses belajar yang dilakukan.
d. Communicate for Buy-in
Komunikasikan ke sebanyak mungkin orang tentang pentingnya belajar, ciptakan learning awareness sampai benar-benar terjadi buy-in untuk sebanyak mungkin karyawan. Buatlah kampanye "kecil-kecilan", buat spanduk, poster yang menarik, kirim e-mail ke karyawan, buat cara-cara kreatif untuk mendukung terselenggarnya learning forum dengan di-"bumbui" nama acara yang menarik, misalnya : "rujak party", " siomay party" dsb yang pada intinya mengajak orang kumpul untuk "fun" dan belajar.
e. Empower Action
Berikan wewenang kepada beberapa orang yang terlibat pada proyek ini, latih mereka untuk menjadi motor pembelajar dan agen perubahan di bagiannya.
f. Create Short-term Wins
Buatlah kemenangan / kesuksesan jangka pendek, perlihatkan hal-hal yang sudah dicapai jika karyawan mau belajar dan mau menjadikan organisasinya menjadi organisasi pembelajar. Lakukan testimony atau penghargaan buat pribadi atau komunitas pembelajar di organisasi yang dianggap telah melakukan proses belajar atau telah melakukan semacam learning forum secara rutin dsb
g. Dont Let Up
Jangan mudah menyerah, lakukan terus perubahan-perubahan, lakukan terus kampanye-kampanye dan tetap tumbuhkan spirit belajar untuk karyawan. Tetap berdayakan tim (key person) di tiap bagian untuk terus mendukung proses belajar yang kita canangkan.
h. Make it Stick
Pastikan dan tetap follow up kepada karyawan bahwa kita telah meninggalkan budaya lama dan mulai melakukan budaya baru yaitu bahwa setiap karyawan perlu dan butuh belajar. Belajar bukan lagi kewajiban dan paksaan tetapi sudah merupakan kebiasaan baru karyawan.
3. PAKSA-TERPAKSA-BIASA-BUDAYA
Ada juga cara "orde baru" yang mungkin dapat kita lakukan yaitu : PAKSA karyawan untuk belajar, pakai absensi, pakai laporan, berikan poin untuk apa yang sudah dipelajari berikan punishment bagi yang tidak belajar, biarkan karyawan TERPAKSA agar lama-lama menjadi BIASA dan kemudian menjadi BUDAYA!. (Portalhr) www.suaramedia.com
Melihat pergerakan alur ekspansi area yang di lakukan oleh team Marketing ALVIN'S Cake & Bakery , cukup menggembirakan , meskipun membutuhkan suatu tindakan prepare atas kelengkapan data sebagai dasar acuan analisa team management Massfood Mitra Sentosa .
Sore itu sengaja full team management makan siang di luar untuk sekedar mengadakan informal meeting saling lempar informasi , case dan solusi dengan suasana yang santai tapi berbobot dengan kualitas diskusi yang produktif .
Kalau kita pernah mendengar salah seorang dari karyawan yang bekerja sudah cukup lama berkata, “dulu waktu masih nyonya yang pegang, kita enak yah…” atau mungkin pernah dengar seperti ini, “sekarang ini ga kayak dulu, peraturan makin banyak.. dulu kayaknya kita kerja rela-rela aja korbanin waktu meskipun ga dibayar”.
Menurut saya itu adalah salah satu proses evolusi dari manajemen kekeluargaan ke profesionalisme. Namun seringkali hal ini tidak dipahami oleh orang-orang yang tidak siap untuk berubah. Apakah profesionalisme itu kejam? Atau sebaliknya apakah kekeluargaan itu baik? Masing-masing memang ada plus-minus nya. Akan tetapi perlu dipahami bahwa jika suatu perusahaan tetap mempertahankan model manajemen kekeluargaan, maka perusahaannya pasti tidak bisa berkembang pesat. Titik lemah manajemen keluarga lebih ada pada ketergantungan terhadap orang dan fleksibilitas yang sangat tinggi menyebabkan suatu peraturan sangat tergantung pada keberadaan pemilik dan dalam pengukuran kinerja terlihat sangat subyektif.
Sedangkan manajemen profesionalisme terkesan kaku dan kejam, tetapi sesungguhnya perlakuannya sangat obyektif. Memang hal ini tetap tergantung pada manajer atau direkturnya. Karakter setiap manajer atau direkturnya akan mempengaruhi proses manajemen profesionalisme ini.
Jadi dimanakah kesiapan Anda? Di perusahaan yang menerapkan manajemen kekeluargaan atau yang menerapkan manajemen profesional.
Salam
Source Artikel : http://lyntrias.wordpress.com
Secara umum perkembangan suatu team dapat dibagi dalam 4 tahap:
Penetrasi pasar yang di push oleh team marketing , secara periodik selalu menjadi pokok perhatian team marketing , meskipun tetap dengan tidak mengabaikan ekspansi area baru dengan segala effort yang di perlukan .
Ada saatnya serius dan konsentrasi pada pekerjaan hingga sering lupa waktu dan bahkan mengabaikan kehidupan sosial kita .
Didalam organisasi dibutuhkan koordinasi. Koordinasi sendiri di definisikan sebagai proses penyatuan tujuan-tujuan organisasi dan kegiatan pada tingkat satu satuan yang terpisah dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Koordinisasi yang efektif dalam organisasi diperlukan karena tanpa adanya koordinasi maka setiap anggota dalam organisasi tidak memiliki pegangan mana yang harus diikiti, yang akhirnya akan merugikan organisasi itu sendiri.
Sebelumnya kita harus mengerti arti kata organisasi. Di mana kata “organisasi“ mempunyai dua pengertian umum. Pengertian pertama menandakan suatu lembaga atau kelompok fungsional, seperti organisasi perusahaan, rumah sakit, perwakilan pemerintahan, atau suatu perkumpulan olahraga. Pengertian kedua berkenaan dengan proses pengorganisasian, sebagai suatu cara dalam mana kegiatan organisasi dialokasikan dan ditugaskan diantara para anggotanya agar tujuan organisasi dapat tercapai dengan efisien. Di dalam sebuah organisasi diperlukan adanya sebuah koordinasi antara manajer dan bawahannya untuk kelangsungan organisasi itu sendiri.
Pengertian Koordinasi
Koordinasi didefinisikan sebagai proses pengintegrasian ( penyatuan ) tujuan dan kegiatan perusahaan pada satuan yang terpisah dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuan organisasi secara efisien.
Koordinasi dibutuhkan sekali oleh para karyawan, sebab tanpa koordinasi setiap karyawan tidak mempunyai pegangan mana yang harus diikuti, yang akhirnya akan merugikan organisasi itu sendiri.
Pedoman Koordinasi
Untuk melihat kemampuan seorang manajer sebagai pemimpin ( atasan ) dalam melakukan koordinasi dilihat dari besar kecilnya jumlah bawahan yang ada dalam tanggung jawabnya, yang dikenal sebagai rentang manajemen. Koodinasi dibutuhkan sekali oleh para karyawannya,sebab tanpa koordinasi setiap karyawan tidak mempunyai pegangan mana yang harus diikuti, sehingga akan merugikan organisasi itu sendiri.
Dengan koordinasi diharapkan keharmonisan atau keserasian seluruh kegiatan untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Sehingga tiap departemen atau perusahaan atau bagian menjadi seimbang dan selaras. Koordinasi merupakan usaha untuk menciptakan keadaan yang berupa tiga S,yaitu serasi,selaras dan seimbang. Kebutuhan koordinasi tergantung pada sifat dan kebutuhan komunikasi dalam pelaksanaan tugas dan derajat ketergantungan dari tiap satuan pelaksanaan.
Prinsip rentang manajemen berkaitan erat dengan jumlah bawahan yang dapat dikendalikan secara efektif oleh manajer atau atasan. Antara rentang manajemen dan koordinasi saling berhubungan erat. Ada anggapan bahwa semakin besar jumlah rentangan semakin sulit untuk mengkoordinasikan kegiatan bawahan secara efektif.
Agar wewenang yang dimiliki oleh seorang pemimpin dapat di taati oleh bawahan maka diperlukan adannya:
Empat tipe perbedaan dalam sikap dan cara kerja di antara bermacam-macam individu dan departemen-departemen dalam organisasi menurut Paul R. Lawrence dan Jay W. Lorch adalah:
Para anggota dari departemen yang berbeda mengembangkan pandangan-pandangan mereka sendiri tentang bagaimana cara mencapai kepentingan organisasi yang baik.
Manajer akan lebih memperhatikan masalah-masalah yang harus dipecahkan segera atau dalam periode waktu pendek. Bagian penelitian dan pengembangan lebih terlibat dengan masalah-masalah jangka panjang.
Kegiatan produksi memerlukan komunikasi dan pembuatan keputusan yang cepat agar prosesnya lancar, sedang bagian penelitian dan pengembangan mungkin dapat lebih santai dan setiap orang dapat mengemukakan pendapat serta berdiskusi satu dengan yang lain.
Setiap tipe satuan dalam organisasi mungkin mempunyai metoda-metoda dan standar-standar yang berbeda untuk mengevaluasi program terhadap tujuan dan untuk balas jasa bagi karyawan.
Pendekatan – pendekatan untuk mencapai koordinasi yang efektif
Komunikasi adalah kunci koordinasi yang efektif. Koordinasi secara langsung tergantung pada perolehan, penyebaran dan pemrosesan informasi. Semakin besar ketidakpastian tugas yang dikoordinasi, semakin membutuhkan informasi. Pada dasarnya koordinasi merupakan pemrosesan informasi. Terdapat tiga pendekatan untuk pencapaian koordinasi yang efektif, yaitu:
Untuk mencapai koordinasi yang efektif kita dapat menggunakan mekanisme teknik-teknik manajemen dasar : hirarki manajerial, rencana dan tujuan sebagai pengarah umum kegiatan-kegiatan serta aturan-aturan dan prosedur-prosedur. Organisasi relatif tidak memerlukan peralatan koordinasi lebih dari teknik-teknik tersebut.
Mekanisme teknik manajemen dasar
ü Hirarki manajerial.
Rantai perintah, aliran informasi dan kerja, wewenag formal, hubungan tanggung jawab dan akuntanbilitas yang jelas dapat menumbuhkan integrasi bila dirumuskan secara jelas serta dilaksanakan dengan pengarahan yang tepat.
ü Aturan dan prosedur.
Adalah keputusan-keputusan manajerial yang dibuat untuk menangani kejadian-kejadian rutin, sehingga dapat juga menjadi peralatan yang efisien untuk koordinasi dan pengawasan rutin.
ü Rencana dan penetapan tujuan.
Pengembangannya dapat digunakan untuk pengoordinasian melalui pengarah seluruh satuan orgaisasi terhadap sasaran-sasaran yang sama. Ini diperlukan bila aturan dan prosedur tidak mampu lagi memproses seluruh informasi yang dibutuhkan untuk mengoordinasikan kegiatan-kegiatan satuan-satuan oraganisasi.
Meningkatkan koordinasi potensial menjadi diperlukan bila bermacam-macam satuan organisasi menjadi saling tergantung dan lebih luas dalam ukuran dan fungsi. Koordinasi ini dapat di tingkatkan melalui dua cara, yaitu :
Adalah peralatan melalui mana data disalurkan melewati tingkatan-tingkatan organisasi. Komunikasi dapat terjadi di dalam atau di luar rantai perintah. Sistem informasi manajemen telah dikembangkan dalam kegiatan-kegiatan seperti pemasaran, keuangan, produksi, dan operasi-operasi internasional untuk meningkatkan informasi yang tersedia bagi perencanaan, koordinasi, dan pengawasan.
Melalui pemotongan rantai perintah, hubungan-hubungan lateral membiarkan informasi dipertukarkan dan keputusan dibuat pada tingkat hirarki dimana informasi yang dibutuhkan ada.
Beberapa hubungan lateral, yaitu:
ü Kontak langsung antara individu-individu yang dapat meningkatakan efektivitas dan efisiensi kerja.
ü Peranan penghubung, yang menangani komunikasi antar departemen sahingga mengurangi panjangnya saluran komunikasi.
ü Panitnya dan satuan tugas. Panitnya biasanya diorganisasi secara formal dengan pertemuan yang dijadwalkan teratur. Satuan tugas dibentuk bila dibutuhkan untuk masalah-masalah khusus.
ü Pengintegrasian peranan-peranan, yang dilakukan oleh misal manajer produk atau proyek, perlu diciptakan bila suatu produk, jasa atau proyek khusus memerlukan tingkat koordinasi yang tinggi dan perhatian yang terus menerus dari seseorang.
ü Peranan penghubung manajerial, yang mempunyai kekuasaan menyetujui perumusan anggaran oleh satuan-satuan yang diintegrasikan dan implementasinya. Ini diperlukan bila posisi pengintegrasian yang dijelaskan pada d di atas tidak secara efektif mengoordinasikan tugas tertentu.
ü Organisasi matriks, suatu mekanisme yang sangat baik bagi penanganan dan penyelesaian proyek-proyek yang kompleks.
Dalam beberapa situasi adalah tidak efisien untuk mengembangkan cara pengkoordinasian tambahan. Ini dapat dilakukan dengan penyediaan tambahan smber daya-sumber daya untuk satuan-satuan organisasi atau penglompokan kembali satuan-satuan organisasi agar tugas-tugas dapat berdiri sendiri.
Sumber daya-sumber daya tambahan memberikan kelonggaran bagi satuan-satuan kerja. Penambahan tenaga kerja, bahan baku atau waktu, tugas diperingan dan masalah-masalah yang timbul berkurang.
Teknik ini mengurangi kebutuhan koordinasi dengan mengubah karakter satuan-satuan organisasi. Kelompok tugas yang dapat berdiri sendiri diserahi suatu tanggung jawab penuh salah satu organisasi operasi (perusahaan).
KESIMPULAN
Koordinasi sangatlah dibutuhkan dalam setiap organisasai ataupun kelompok apapun, demi tercapainya segala tujuan yang hendak dicapai. Komunikasi merupakan suatu kunci utama dalam tercapainya suatu koordinasi yang efektif. Pada dasarnya koordinasi merupakan suatu pemrosesan informasi. Di sini peranan menejer sangat dibutuhkan dalam melaksanakan tugasnya dalam bidang pengontrolan, pengawasan dan evaluasi. Kedekatan hubungan dan kelancaran informasi antara menejer dengan bawahan pun juga sangat perlu diperhatikan agar dalam pelakasanaan tugas tidak terdapat kesalahan informasi (miss comunications) ataupun tekanan dalam bekerja.
Sehingga dengan koordinasi yang baik dapat mempermudah suatu organisasi menjadi lebih maju karena tercapainya tujuan dari organisasi tersebut.


